unbk

Pengumuman Hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

MTs. Ihyaul Ulum Dukun Gresik Tahun Pelajaran 2016/2017

Masukkan Username UNBK (mulai 2 Juni 2017)
Format : Pxxxxxxxxxxx

aswaja

 

Oleh : K. H. Sa’dan Maftuh

 (Kepala MTs. Ihyaul Ulum Dukun Gresik)

 

الحمد لله رب العالمين له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن صلوات الله البر الرحيم والملائكة المقربين على سيدنا محمد وعلى جميع إخوانه النبيين والمرسلين وعلى ءال كل وصحب كل وسائر الصالحين، أما بعد

 

Untuk memahami bid’ah,penulis  ingin  menyarmpaikan beberapa dalil dan pembahasannya sekaligus, sehingga  menambah wawasan pembaca. Dengan demikian  apabila  pembaca tergolong orang yang  sefaham dengan penulis, maka tulisan ini  dapat meneguhkan faham  dan menambah  dalil yang  pembaca  miliki.  Dan apabila  pembaca  bersebrangan faham dengan penulis , minimal  akan menyadarkan pembaca bahwa yang bersebrangan itu ternyata memiliki dalil yang kuat. 

 

1.  ORANG PERTAMA YANG MEMBAGI BID’AH

 

Orang pertama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah adalah Rasulullah sendiri,  melalui  hadits beliau :

 

وفي الصحيح أنه صلى الله عليه وسلم قال: ) من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء (رواه مسلم في صحيحه من حديث جرير بن عبد الله البجلي

 

Artinya :

 

Dalam suatu hadits shahih Rasulullah saw. bersabda : Barang siapa yang memunculkan/ mencetuskan kebaikan baru dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikuti setelahnya, tanpa pengurangan sedikitpun dari pahala yang mengikutinya. Dan barang siapa yang dalam Islam memunculkan perilaku jelek, maka dosanya menjadi beban dirinya dan dosa-dosa orang yang mengikuti setelahnya, tanpa pengurangan sedikitpun dari dosa orang yang mengikutinya.

 

 

 

2.  KEPELOPORAN TIDAK DIBATASI WAKTU

 

Perintah untuk mempelopori/mencetuskan kebaikan baru tersebut tidak dibatasi oleh waktu, atau generasi tertentu. Kapanpun dapat dilakukan oleh orang Mukmin. Sebab pembatasan watku atau generasi diperlukan dalil tersendiri.  Sebenarnya hal ini telah diterima oleh Muslim seluruh dunia, dengan bukti sekarang kita tidak dapat menemukan Al qur’an seperti dizaman Rasulullah dahulu, yang tanpa harakat, tanpa titik, sekarang semua Alqur’an dicetak dengan titik dan harakat (baris) malah dibagi menjadi 30 juz, ada nama surat, ayat-ayat sajdah diberi tanda dan ada juga penomoran ayat. Kesemuanya itu terjadi setelah zaman Khulafaur Rasyidin, dan masa sahabat nabi.Kita tidak menjumpai ulama (golongan) yang menyatakan bahwa kesemuanya itu termasuk dalam hadits  (كل بدعة ضلالة) malahan semua ummat islam menganggap baik ,dan menyatakan sangat besar jasa mereka yang member titik baris dan seterusnya ,. untuk memudahkan membacanya.

 

3.  NABI ADALAH MA’SHUM DAN HADITS  ADALAH WAHYU

Perlu kita fahami bahkan wajib kita  yakini bahwa tidak mungkin Rasulullah yang ma’shum (terpelihara) akan menyampaikan hadits-haditsnya dalam keadaan saling berlawanan  antara satu hadits dengan hadits lainnya. Umpama  hadits dalam nomor 1 diatas akan bertabrakan dengan hadits

 

(كل مُحدثة بدعة، وكُل بِدعة ضلالة)

Tidaklah  mungkin hal itu terjadi, Sebab Nabi  tidak berbicara kecuali dengan wahyu dari Allah, Sedangkan hadits adalah bagian penting dari Agama , Kalau sumber agama saling bertentangan, mana mungkin dijadikan  pedoman dan pegangan dalam  hidup manusia . Demikian itu mustahil

 

Selanjutnya kalau sampai terjadi saling bertentangan antara nash-nash itu ,maka sebab utamanya adalah kesalahan dalam pemilahan dan penggolongan muhdats (masalah baru) kedalam hadits sebagai wadahnya. Karenanya berikut ini cara dan sistim memasukkan masalah kedalam wadahnya ( Hadits) 

 

4.    CARA PENGGOLONGAN HAL YANG BARU

Pembaca perlu mengetahui ketahui sistim/cara penggolongan hal-hal baru (Muhdats) dalam agama ,

 Ø  Bila muhdas ( barang baru yang muncul )  itu

 -       Bertentangan dengan nash-nash  dan dasar-dasar syariah

 يخالف النصوص والأصول الشرعية

 -       Tidak disandarkan kepada  amalan tiga generasi

 ولم يكن مستندًا إلى عمل القرون الثلاثة

                 Maka secara aqli maupun naqli harus digolongkan pada kelompok

 

(كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة)

                   

 

Ø  Bila Muhdats (barang baru yang muncul ) itu 

 

-       Tidak keluar dari syariat dan perintah Rasulullah

 

لا خارج عن الشرع ولا عن أمره صلى الله عليه وسلم

 

-       Tidak keluar  dari cara dan kebiasaan Rasulullah

 

ولا عن طريقته وسنته

 

-     Tidak keluar dari sistimatika pensyariatan

 

ومنهج تشريعه

 

      Maka yang sedemikian itu masuk kedalam kelompok hadits ,   

 

من سنفى الاسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده  من غير أن ينقص من أجورهم شيء

Contoh :

 

»      Masjid diberi garis agar shaf jamaah lulus adalah hal baru. Zaman Nabi tidak ada

 

»      Menulis e mengikuti nama beliau seperti yang dilakukan percetakan kitab-kitab khususnya kitab hadits.adalah hal baru, Nabi sendiri disaat mendekte penulisan nama beliau dalam surat-surat yang dikirimkan kepada pembesar dan raja-raja saat itu , tanpa disertai dengan tambahan Shalawat.

 

»      Shalat mengelilingi ka’bah tidak pernah dilakukan oleh oleh Makmum pada masa Rasulullah dan Khalifahnya. Baru pada kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan,  Kholid bin Abdilah sebagai wali Makkah memerintahkan makmum melingkar.

 5. TAKWIL TERHADAP NASH YANG TAK MEMERLUKAN TAKWIL .

     

 

                           من سنَّ فى الاسلام سنة حَسنة......... ومن سنَّ سنة سيئة    )(

 

       Pembaca  tahu bahwa hadits  diatas membagi  barang-baru dalam agama ( Muhdats )  

 

menjadi dua macam yaitu: maqbul dan mardud atau hasanah dan sayyiah. Hal itu jelas tanpa membutuhkan takwil. Artinya hadits diatas dengan jelas gamblang dan, terang menganjurkan kita untuk menjadi pencetus kebaikan baru. , tetapi sebagaian dari mereka mentakwilakan diluar kesharihan (kegamblangan) maknanya.

 Ø  Sebagian mereka memberikan takwilan/tafsirسنَّ denganأحياyang mempunyai arti menghidupkan“Dengan demikian berarti ada sunah yang mati atau ditinggalkan Dengan penakwilan sedemikian itu diharapkan ada kesan bahwa  pelaku  tidak  lagi  pencetus kebaikan baru, namun menghidupkan sunnah lama.

 

Anjuran untuk menghidupakan kembali sunnah Nabi yang ditinggalkan atau telah mati ,adalah perintah tersendiri , oleh sebab itu banyak hadits yang diriwayatkan baik secara tersirat (mafhum)   dan secara tersurat ( dengan mantuqnya)

 

         Hadits  disampaikan secara tersirat

 


عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئًا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئًا) رواه مسلم.

 

Artinya :

Dari Abi Hurairah RA. Bahwa Nabi Sallallahu alaiwasalalam  bersabda; “ Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk (sunnah), maka baginya pahala semisal pahala pengikutnya, tanpa mengurangani sedikitpun pahala pengikutnya. Dan barang siapa yang mengajak pada kesesatan, maka baginya bebandosa seperti dosa orang yang menuruti ajakannya , tanpa sedikitpun mengurangi beban dosa pengikutnya.   

 

 

 

Hadits disampaikan secara tersurat

 

وعن كثير بن عبد الله عن أبيه عن جده قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  )من أحيا سنة من سنتي قد أميتت بعدي  فإن له من الأجر مثل من عمل بها من غير أن ينقص من

 

أجورهم شيئًا، ومن ابتدع بدعة ضلالة  لا تُرضى الله  ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها

 

 لا يَنقص ذلك من أوزار الناس شيئًا ( رواه الترمذي وحسنه وابن ماجه

 

.

 

Artinya :

 

Dari Katsir bin Abdillah dari ayahnya dari embahnya, ia berkata aku dengar Rasulallah sallallahu alaihi wasallam . Bersabda : “ Barang siapa yang menghidupkan setelahku  suatu sunnah dari sunnah-sunnahku yang telah ditinggalkan,  sungguh baginya pahala baginya pahala semisal pahala orang yang melakukannya, tanpa mengurangani sedikitpun pahala pengikutnya. Dan barang siapa melakukan bid’ah dhalalah yang tidak diridhoi Allah dan Rasulnya, maka ditimpakan  baginya beban dosa dan dosa  orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi beban pengikutnya sedikitpun.( Riwayat At-Turmudli sebagai hadits hasan, dan juga Ibnu Majah) 

 

 

 

 

 

 

 

Ø  Sebagian yang lain menakwilkan kataسن   dengan kata “التمسك  “ yang berarti berpegang teguh . agar memberi  kesan bahwa  pelaku  tidak  lagi menjadi pencetus kebaikan baru, namun tetap selalu berada dalam sunnah yang ada.

 

   Namun Al Hamdulillah takwilan itu menjadi batal,sebab nash yang Sharih (jelas) tentang

 

   “tamassuk” sudah ada tersendiri, baik yang berbentuk mantuq atau yang disindir serara 

 

    mafhum dan maknanya jelas mengacu pada kewajiban tamassuk pada sunnah.

 

ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (المتمسك بسنتي عند فساد أمتي له أجر شهيد) رواه ا لطبراني  في " الأوسط " و قـال : لا يروي هذا الحديث عن عطاء إلا عبد العزيز بن أبي داود، تفرد به ابنه عبد المجيد.  وأورده بهذا اللفظ الهيثمي في "مجمع الزوائد"

 

Artinya:

Apa yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA. bahwa Rasulullah ebersabda : “Orang yang berpegang pada sunnahku disaat rusaknya ummat , baginya pahala mati  syahid”. Diriwayatkan Imam Thabrani dalam Al-Ausyath.dan beliau mengatakan:tak seorangpun  meriwayatkan dari Athaa kecuali Abdul Aziz bin Abu Daud , dan Abdul Aziz dalam hal ini sendirian. Demikian juga Al Haitsami meriwayatkannya dalam kitab Majmak Zawaid.

 

وأورده السيوطي في "الجامع الصغير" عن أبي هريرة ورمز لحسنه كما قال المناوي.
وفي رواية أخرى عن ابن عباس رفعه) : من تمسك بسنتي عند فساد أمتي فله أجر مائة شهيد(رواه ابن عدي

 

   Artinya

   Dalam  Kitab Jamius shaghir   Imam As-Syuyuthi  meriwayatkan  dari Abi Hurairah, dan 

   menyatakan tingkan kehasanan haditsnya.  seperti apa yang  diriwayatkan oleh    Imam   

Al-Manawi. Dan dalam riwayat lainnya dari riwayat Ibnu Abbas yang marfu : “ Barang siapa  yang berpegang teguh pada sunnahku disaat ummat telah mengalami kerusakan, maka baginya pahala 100 (seratus) orang yang mati syahid. . Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy  ;    

 

6.    BAHASA SAHABAT NABI

 

Hal yang juga perlu untuk mendapat perhatian sebelum memutuskan hukum agama  adalah  mengetahui  kebiasaan para sahabat dalam penggunaan  bahasa .

 

Dimasa sahabat  sebagian dari  mereka bila  mengetahui  barang baru, mereka akan menyebutnya  dengan  “bid’ah” .  Cirinya  bila mereka  menyebut secara  muthlaq  maka pertanda barang itu  jelek baginya. Tetapi bila kemutlakan itu tidak ada, malah disertai oleh tanda yang menunjukkan  kebaikannya, maka  ungkapan bid’ah yang mereka sampaikan itu bermakna “barang baru”  bukan bermakna “ bid’ah yang sesat    

 

 Dalam masalah ini sayyid Muhammad Alwi AlMalili

 

إعلم أن بعض الصحابة رضي الله عنهم قد حكموا على بعض الأمور المستحدثة في زمانهم بكونها بدعة، فإن كان مع إطلاقهم دل ذلك على كونه قبيحًا عندهم، وإن لم يكن معه ذلك بل كان معه ما يدل على تحسينهم ذلك دل على أنهم أرادوا بالبدعة المعنى العام "المحدث"، لا البدعة التي هي ضلالة.

 

Artinya :

 

Ketahuilah bahwa sebagian dari para sahabat f  sering dimasanya bila menemukan barang baru muncul mereka sebut dengan sebutan “bid’ah”.Cirinya bila mereka menyebut secara muthlaq maka sebutan itu menandakan barang itu menurutnuya jelek. Tetapi bila kemutlakan itu tiada, malah barang itu disertai oleh tanda yang menunjukkan  kebaikannya, maka  ungkapan bid’ah yang mereka sampaikan itu bermakna “barang baru”  bukan bermakna “ bid’ah yang sesat     

 

مثال الأول ما أخرجه أبو داود عن مجاهد قال: كنت مع ابن عمر فثوّب رجلٌ في الظهر أو العصر، فقال ابن عمر: أخرج بنا فإن هذه بدعة.

 

 

ما أخرجه الترمذي وحسنه والنسائي وابن ماجه والبيهقي وغيرهم من حديث أبي نعامة الحنفي –واسمه قيس بن عباية– عن أبي عبد الله بن مغفل قال: سمعني أبي وأنا في الصلاة أقول: بسم الله الرحمن الرحيم، فقال: أي بني محدث، وإياك والحدث، قال: ولم أر أحدًا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كان أبغض إليه الحدث في الإسلام – يعني منه – قال: وقد صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر ومع عمر ومع عثمان فلم أسمع أحدًا منهم يقولها فلا تقلها أنت، إذا صليت فقل: الحمد لله رب العالمين.

 

 

قال اللكنوي: دل هذا الحديث على أن الجهر بالبسملة في الصلاة محدث، استقبحه عبد الله بن مغفل، والمسألة خلافية بين الأئمة، والأحاديث فيها متعارضة، والقول الحق هو ثبوت الجهر من النبي صلى الله عليه وسلم أحيانًاوكون السر أقوى من الجهر، كما حققته في رسالتي "إحكام القنطرة في أحكام البسملة".

 

Contoh pertama;

Hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Mujahid yang berkata: “ Aku bersama Ibnu Umar kemudian seseorang melakukan “tatswib” diwaktu dhuhur dan asar, lalu Ibnu Umar berkata :” Ayo keluar sungguh ini adalah prilaku bid’ah”.

 

Imam Turmudzi mengeluartkan hadits hasan, juga Imam Nasa’i Ibnu Majah, Baihaqi dan lainnya yang bersumber dari Abi Nu’amah (yang namanya Qois bin Ubadah) dari Abdullah bin Mighfal yang berkata :” Aku dalam shalat dan bapakku mendengarku membaca Basmalah, kemudian ia berkata Anakku itu Muhdats, jauhi barang baru itu “. Selanjutnya bapak bilang :”Tidak kulihat seorangpun dari sahabat Rasulullah benci dalam islam kecuali terhadap barang yang baru, Aku sendiri shalat berdama Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan tidak satupun dari mereka membacanya, karena itu jangan baca basmalah tetapi bacala Al-Hamdu lillahi Rabbil Alamin.

 

Laknawi mengatakan :

Hadits ini menunjukkan bahwa baca basmalah dengan suara keras dalam shalat adalah hal baru dan dinyatakan jelek oleh Abdillah bin Mighfal, Padahal masalah itu adalah diper selisihkah oleh parta Imam. Hadits-hadits tentang basmalah saling berbeda . Yang Haq  adalah terkadang adanya baca basmalah dengan keras dari Rasulullah, walaupun yang sirri lebih kuat dari jahr menurut tahqiq yang saya lakukan dalam risalahku :

 

 

"إحكام القنطرة في أحكام البسملة

 

 

ومثال الثاني: ما ورد عن عمر في صلاة التراويح من توصيفها بالبدعة الحسنة.
وأخرج سعيد بن منصور في "سننه" عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه: إن الله كتب عليكم صيام رمضان ولم يكتب عليكم قيامه، وإنما القيام شيء ابتدعتموه، فدوموا عليه ولا تتركوه، فإن ناسًا من بين إسرائيل ابتدعوا بدعة  ابتغاء رضاء الله، فعاتبهم  الله بتركها

 

ثم تلا} : وَرَهْبَا نِيَّةً ابْتَدَعُوهَا... الآية{   دل أمره بالدوام  مع صفة  بالابتداع  على كونه  أمرًا حسنًا.

 

Contoh kedua :

Tentang pemberian sifat  “Bid’ah Hasanah”  yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab ra. dalam hal tarawih. 

 

Said bin Mansur dalam “Sunan” karyanya meriwayatkan dari Abi Umamah Al Bahili ra  (Ia bersabda ) :“Sesungguhnya Allah mewajibkan kalian puasa ramadhan, dan tidak mewajiobkan qiyamnya, qiyam itu merupakan amalan baru yang kalian buat sendiri, karenanya  teruskan dan jangan kalian tinggalkannya. Ketahuilah bahwa orng-orang Bani Israil dahulu memunculkan “rahbaniyah” dengan tujuan mencari ridho Allah, selanjutnya Allah mencela mereka  sebab ditinggalkannya  Kemudian Ia membaca ayat      [سورة الحديد/27].  الآية  وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا. 

 

Perintah mudawamah (melakukan terus) terhadap suatu amalan yang diberi nama bid’ah  adalah merupakan petunjuk bahwa amalan itu adalah (bid’ah yang)  baik .  

 

7.  PENJELASAN  NASH-NASH  YANG DIGUNAKAN SENJATA MEREKA

 

Dalam mengakhiri tulisan ini, penulis juga kepingin mengurai  beberapahadits yang sering dipergunakan untuk menghantam Ahlussunah wal Jamaa’ah, hadits itu adalah  :

 

روىالبخاري ومسلم عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله  e: "مَن أحدَثَ في أمرنا هذا ما ليس منه  فهو  رد". ورواه مسلم بلفظ ءاخر   وهو : "من عمل عملاً ليس  عليه أمرنا فـهـو   رد".}

Artinya

Imam Bukhori dan Muslim  meriwayatkan  dari  Aisyah ra Ia mengatakan, bahwasanya

Rasulullah  bersabda : “ Barang siapa dalam agama ini memunculkan hal yang baru, yang tidak darinya , maka hal itu tertolak”. Dan Imam Muslim meriwayatkannya  dengan lafal yang  berbeda yaitu : “Barangsiapa yang melakukan amalan, dimana amalan itu bukan perintahku , maka amalan itu tertolak “.

 

Penjelasan :

 

a-    Ternyata dalam hadits  Imam Bukhari , Rasulullah saw. melalui frasa ما ليس منه       dan  melalui frasaليس علـيه أمرنا    dalam hadits riwayat Imam Muslim,  telah   memberikan pemahaman  bahwa  semua muhdats mardud ( tertolak) bila  menentang syari’ah,   tetapi  bila  muhdats  itu cocok,  atau  merupakan pengembangan dari sayari’ah  maka tidak tertolak ( diterima)  dan itulah arti  “MIN HU”.

 

b-    Dalam surah Al-Haj ayat 77  Allah berfirman  :

 

قال الله تعالى  :  { وا فعلوا   الخير  لعلكم  تفلحون }   سورة الحج  77

 

Artinya :

 

Dan berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung .( Al Haj 77 )

 

 

 

Ayat terdsebut dijelaskan oleh hadits yang berbunyi :

 

 قال  رسول الله  e : { ان هذا الخير  خزائن  ،  ولتلك الحزائن مفاتيح ،  فطوبى لعبد  جعله الله  عز وجل  مفتاحا للخير  مغلاقا للشر ،  وويل لعبد  جعله الله  مفتاحا  للشر  مغلاقا للخير  } .  رواه  ابن ماجه  عن سهل بن سعد ،  والمنذرى  فى الترغبيب  والترهيب 1 , صحيفة  62 ، رقم الحديث   99       

Artinya :

Rasulullah bersabda :”Sungguh kebaikan-kebaikan ini (bagaikan) pergudangan, Dan setiap pergudangan memiliki kunci, Karena itu  beruntunglah hamba yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci/pembuka   kebaikan dan penutup kejahatan.  Dan celakalah hamba yang oleh Allah dijadikan kunci / pembuka kejahatan serta penutup kebaikan>  (Ibnu Majah dari Sahal bin Saad, )

 

Dalam hadits diatas mengunakan ungkapan  " مفتاحا للخـير  "merupakan petunjuk dan dalil bahwa kebaikan yang dimaksud dalam hadits adalah  amal-amal baru yang dulunya belum pernah dicontohkan. Seandainya yang dimaksud dalam hadits adalah amalan yang sudah ada percontohan sebelumnya, atau amalan yang dahulu pernah berjalan tetapi kemudian ditinggalkan,maka   ungkapan  dalam  hadits   tidak  akan menggunakan   ungkapan

 

 " مفتاحا للخـير     tetapi  akan menggunakan semisal   محـى  الخــير atau    تـابـع   الخــير

 

 

c-  Kalau ummat Islam hanya boleh melakukan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, dan dilarang melakukan apa yang diluar itu, maka dimanakah posisi Ijtihad yang pahalanya dua lipat jiakalau tepat, dan satu bagian jika salah ?

Pemberian titik  dan baris pada mushaf dan pembagian menjadi 30 juz, penomoran ayat, tanda ayat sajdah kesemuanya itu adalah hasil ijtihad,

 

d-  Kadang pembaca mendengar talbis yang mengatakan “ Apakah anda lebih pandai daripada  Rasulullah, padahal  beliau menyatakan  Semua bid’ah dlalalah, mengapa anda membagi menjadi hasanah dan sayyiah ?”.

Jawabnya :

 

Kata  كل“ dalam hadits  وكل بدعة ضلالة    memang  bermakna Am (umum) tetapi Am yang makhsus , sebagaimana  كل  “ dalam ayat  25 surat Al Ahqaf

 

قال تعالى  : { تدمر  كل  شيئ  بأمر  ربها  فأصبـحوا لا يرى إلا  مساكنـُهم  كذلك  نجزى القوم المجرمـين } الأحقاف  25

 

Artinya :

 

Allah berfirman : ( Azab berupa angin ) itu menghancurkan  segala sesuatu  dengan perintah  Tuhannya , sehingga mereka  (kaum ‘Ad)  tidak tampak lagi (dibumi)  kecuali bekas-bekas tempat tinggalnya. Demikianlah kami memberi  balasan kepada kaum yang berdosa.  Al-Ahqaf 25  

 

قال النووى فى شرحه على صحيح مسلم"(6/154-155): قوله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) هذا عامٌّ مخصوص، .....  ، ولا يمنع من كون الحديث عامًّا مخصوصًا قوله: (كُلُّ بِدْعَةٍ) مؤكّدًا بــكلّ، بل يدخله التَّخصيص مع ذلك كقوله تعالى: {تُدَمّرُ كُلَّ شَىءٍ} [الأحقاف،ءاية 25]اهـ

 

Imam Nawawi  dalam sharah muslim (6/154 – 155 ) mengatakan  : “ Sabda Nabi  saw.

(وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ)adalah  am yang ditakhshis” , ............ walaupun terdapat penguat  berupa  “kullu” ,  Penguat itu tidak menghalangi  masuknya  “ takhsis”  seperti firman Allah  dalam surat ahqaf 25  (تُدَمّرُ كُلَّ شَىءٍ)

   CONTOH AMALAN  BARU DAN TIDAK SEORANGPUN MENYATAKAN BID’AH

 

1.  Seorang menambah do’a dalam i’tidal

 

وأخرج البخاري: "عن رِفاعة بن رافع الزُّرَقي قال: كنّا يومًا نصلّي وراء  النبي e، فلما رفع رأسه من الركعة قال : "سمع الله لمنحمده"   قال رجل وراءه  : ربنا ولك الحمدُ حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، فلما انصرف قال "من المتكلّم" قال: أنا، قال: "رأيت بضعة وثلاثين ملكًا يبتدرونها أيّهم يكتبها أول".  قال ابن حجر في الفتح في شرح هذا الحديث :"واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير مأثور إذا كان غير مخالف للمأثور". ا.هـ.

Artinya :   

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’ Azzuraqi ia berkata :” Suatu hari  kami shalat dibelakang Nabi , ketika beliau bangun dari ruku’ beliau berucap “ سمع الله لمنحمدهseorang ma’mun  menyauti dengan ucapan  ربنا ولك الحمدُ حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه, setelah shalattelah usai Nabi bertanya  , Siapakah  yang mengatakannya ?   Orang tersebut menjawab :” Saya”. Beliau bersabda :” Aku lihat 30 malaikat lebih sekian saling berebut , siapakah diantara mereka yang  paling awal mencatatnya”.

 

Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari saat mensyarahi hadits tersebut menyatakan, Dengan hadits ini ternyata seseorang dalam shalatnya boleh membuat do’a sendiri  –Walau tidak ma’tsur-   asal tidak bertentangan dengan yang ma’tsur. 

 

 

2.  Menambah lafal dalam tahiyyat dalam sholat

  وروى   أبو داود في سننه عن عبد الله  بن عمر أنه كان يزيد  في التشهّد : " وحـده

 

لا شريك  له "، ويقول  : أنا زدتها .   ا.هـ.

 

     Artinya:

Imam Abu Dawud dalam sunannya meriwayatkan dari Abdillah bin Umar bahwa ia dalam tahiyyat  menambahkan    وحده لا شريك له  Ia juga mengatakan ;”aku juga menambahkannya ( dalam tahiyat )”.

 

3.   Shaf  orang melakukan shalat mengitari ka’bah

 

كان المصلون  بالحرم  ما دا ر  حول الكعبة  كما  نراهم  الآن ، و لكن صفوفهم مستقيمة كصفوف الآندونسيين  و أوَّلُ مَنْ أدَارَ الصُّفوفَ حَوْل الكعْبَة  "خالد بن عبدالله القسرى وَلِىُّ مكة فى خلافة عبد الملك بن مروان  وكان عُظمَاءُ  العُلمَاء  يَرَوْنَ  ذلك   ولا يـُنكِرُوْنه   منهم عـَطاءُ   بْن أبى رَباح

 

Artinya : 

Orang-orang yang shalat  ditanah haram Makkah .  dahulu  tidak melingkar mengelilingi  ka’bah sebagaimana kita lihat pada saat ini, tetapi mereka  berbaris lurus seperti shafnya orang-orang  di Indonesia, Adapun  orang   pertama  ( yang memerintahkan)  shaf   mengitari ka’bah adalah  gubrnur  Makkah  KHALID BIN ABDILLAH dimasa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan . Saat itu semua ulama seperti Atha’ bi Abi Rabbah tidak menolaknya .

 

4.    Pemberian titik pada mushaf

ففي كتاب المصاحف لابن أبي داودالسجستانى  ما نصّه: "حدّثنا عبد الله، حدّثنا محمّد بن عبد الله المخزوميُّ،  حدّثنا الحسين بن الوليد، عن هارون بن موسى قال: أوّل مَن نقط المصاحف يحيى بن يعمر" ا.هـ. وكان قبل ذلك يكتب بلا نقـط،   فلما فعـل  هذا   لم  ينكر  العلماء  عليه   ذلك ،

Artinya :

 

Dalam bab Mashahif  karya putra Abi Dawud Al Sijistani yang bunyi  teknya sebagai berikut :  Bercerita padaku Abdullah,  bercerita padaku Muhammad  bin  Abdillah  AlMahzumi, ber ceritera padaku Al Husain  dari Harun bin Musa  ia berkata : “  Orang yang pertama kali memberi titik  pada mushaf adalah Yahya bin Ya’mar”.

 

Sebelum itu mushaf ditulis tanpa titik , dan setelah yahya bin ya’mar melakukannya, tidak satupun  ulama’ mengingkarinya.

 

 

5.    Penambahan dalam qunut

 

وقال النووي في روضة الطالبين في دعاء القنوت ما نصّه: "هذا هو المروي عن النبي eوزاد العلماء فيه: "ولا يعزّ من عاديت" قبل: "تباركت وتعاليت" وبعده: "فلك الحمد على ما قضيت أستغفرك وأتوب إليك". قلت: قال أصحابنا: لا بأس بهذه الزيادة. وقال أبو حامد والبَنْدَنِيجيُّ وءاخرون: مستحبة". انتهى كلام النووي.

 

Artinya:

Dalam masalah qunut Imam Nawawi dalam kitab Raudhah Al-Thalibin berkata, yang bunyi teknya sebagai berikut  : “Ini adalah  tek yang  asli dari Nabi, tetapi para ulama’ menambah   ولا يعزّ  من  عاديت   sebelum  تباركت  وتعاليت  dan  sesudahnya  ditambahkan  kalimat   berupa  

فلك الحمد على ما قضيت أستغفرك وأتوب إليك"”. Aku katakana: “   Teman-temanku ( golongan Syafi )  menyatakan, bahwa penambahan itu tidak ada masalah, bahkan Abu Hamid dan Al-Bandaniji  juga  lain-lainnya  menghukumi sunnah.  Selesai  sudah uraian Imam Nawawi.

 

 

6- Shalat Dhuha berjamaah di Masjid 

 

    تسمبة  ابن عمر رضي اللهعنهما - صلاة الضحىجماعة  فى المسجد  بدعة  -  وهى من   

 الأمور   الحسنة  ،  روى البخارى ومسلم    فى صحيحهما  عن مجاهــد قال :  " دخـلت أنا  وعروة  بن  الزبير المسجــد ،  فإذا عبد الله  بنعمرجالس إلى  حـجــرةعائشة   وإذاناس    يصلون   الضحى  فسألناه  عن صلاتهم  فقال : بدعة  .   ( من  فتاوى  دار الإفتاء  المصرى 

 

    برقم 508    لسنة  2011  ) 

 

       Artinya :

Ibnu Umar RA. menyebut shalat dhuha berjamaah dimesjid  dengan  sebutan bid’ah, padahal  termasuk  bid’ah yang baik , 

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih keduanya dari Mujahid , Ia berkata : Aku bersama Urwah bin Zubair memasuki Masjid tiba-tiba (kulihat)  Ibnu Umar duduk bersandar kekamar A’isyah , sedangkan orang–orang sedang melakukan shalat  dhuha,  Lalu kami tanyakan tentang shalat mereka , Ia mengatakan : “bid’ah”

 

( Dari Fatwa Dar Al Ifta Mesir nomor 508, tahun 2011)

 

Dar Ifta’ Mesir menganggap shalar dhuha berjamaah bid’ah hasanah sebab masih dilakukan oleh ummat yang hidup tiga qurun  yang disebut Nabi.

 

7-  Penulisanصلى الله عليه  ( e )dibelakang penulisan nama beliau


ومنها كتابةصلى الله عليه وسلم عند كتابة اسمه، ولم يكتب  ذلك في رسائله  التي أرسل بها  إلى المـلــوك   والرؤساء ، وإنما كان  يكتبـ من محمّد رسول الله  إلى   فـلان.  

     Artinya

Termasuk bid’ah hasanah  adalah penambahan  ( e ) setelah nama Rasulullah ,  sebab Rasulullah   tidak menulis  demikian itu dalam surat-surat beliau yang dikirim  kepada para pembesar dan rtaja-raja  dizaman itu,  Yang ditulis  hanya “  Dari Muhammad utusan Allah kepada fulan”.

 

Berikut contoh surat beliau :

o    الى هرقل :

 

بسم الله الرحمن الرحيم   من محمد رسول الله  الى هرقل  عظيم  الروم  سلام على من اتبع الهدى   أما بعد  فإنى ادعوك بدعاية الإسـلام   أسلم تسلم  ، يؤتك الله أجرك مرتين  فإن توليت  فإن عليك  إثم الأريسيين ، ويا أهل الكتاب  تعالوا  الى كلمة  سواء  بيننا وبينكم  أن لا نعبد الا الله  ولا نشرك به شيئا ولا يتخـذ  بعضنا أربابا  من دون الله  فان تولـوا  فقولوا أشهدوا  بأنا  مسلمون  .  روى البخـارى فى صحيحه  وارسل  رسول الله eالكــتاب  مع دحـية الكلبى  رضى الله عنه  .

 

 

o    الى كسرى عظيم فارس

 

بسم الله الرحمن الرحيم   من محمد رسول الله  الى كسرى عظيم فارس  سلام على من  اتبع الهدى  وأمن بالله  ورسوله ، وشهــد أن لا  اله الا الله  وحده  لا شريك  له   وأن محمدا  عبده ورسوله  ،  أدعوك  بدعاية  الله  عز  وجل  فإنى رسول الله الى الناس كلهم  لأنذر من كان  حيا ويحق القول  على الكافــرين ،  أسلم تسلم   فإن توليت   فعـليك  إثـم الـمجــوس  .  وبعث الكتاب  مع عبد الله  بن حذافة  السهمى .

 

Masih banyak lagi contoh-contoh lain tentang  amalan baru tetapi tidak ada kelompok yang menyatakan bid’ah , pembaca dapat melihat  tentang  “ mabit dimina” ,   Dalam kenyataan setelah  Mina sudah tidak mampu lagi menapung orang yang mabit, langkah yang diambil adalah memperluas  kota Mina , dan perluasan itu disebut dengan  “ Mina Jadid” .

 

Kita melihat kebanyakan dalam resepsi walimah Arusy  diadakan pengajian hikmah pernikahan, padahal pada Zaman Nabi Khutbah dilakukan pada saat pelaksanaan  akad. Kalau semua bid’ah itu sesat , maka dunia ini penuh dengan bid’ah, dan pelakunya justru  semua golongan Islam  .

 

Pertanyaan selanjutnya tidak adakah ummat yang yang masuk surga ?   Shalatnya penuh dengan bid’ah,  Qur’annya dicetak dengan tambahan yang juga bid’ah, demikian juga Kitab haditsnya  dicetak dengan  cara yang bid’ah.