unbk

Pengumuman Hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

MTs. Ihyaul Ulum Dukun Gresik Tahun Pelajaran 2016/2017

Masukkan Username UNBK (mulai 2 Juni 2017)
Format : Pxxxxxxxxxxx

Asyari

Oleh : Muhammad Asy'ari, S.Pd.I, M.Pd.I
(Pengasuh MTs., MA dan Madin Ihyaul Ulum)

Saat ini ada beberapa miskonsepsi, setelah pola pikir ilmu ekonomi diterapkan dalam ilmu pendidikan. Nilai ekonomi yang berarti memperoleh keuntungan dengan memberi pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan, tidak tepat sepenuhnya dalam ilmu pendidikan. Murid dianggap raja yang haus dilayani seperti raja, dipuaskan pelayanannya karena dia telah memberi keuntungan bagi penyedia jasa pendidikan. Ilmu marketing di ekonomi diterapkan dalam rekruitmen murid baru dengan berbagai jenis pendekatan. Tanpa disadari telah membawa dampak yang kurang positif dalam pengembangan potensi peserta didik. Jika pelayanan terhadap peserta didik bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik seperti yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional, maka hal itu sebagai suatu keniscayaan atau keharusan. Namun kenyataan di lapangan, dengan pelayanan pendidikan yang sepenuhnya menggunakan ilmu ekonomi, yang terjadi adalah mal praktek pendidikan. fasilitas yang mewah dan canggih, mengantarkan potensi anak lebih menuntut secara instant, saat itu juga. (Kun fayakun) sehingga nilai kesabaran, ketabahan, menahan diri terkikis dalam potensi diri peserta didik.


Peserta didik yang dipuaskan pelayanannya mengandung nilai-nilai HAM, sehingga tidak boleh lagi ada hukuman pada siswa baik fisik maupun perilaku menyimpang. Akibatnya terjadi pembiaran perilaku tercela dan mengikis perilaku terpuji yang harus menjadi proses pembiasaan.
Anak usia bermain seperti PAUD/ TK dipaksa orang tua atau guru untuk diberi mata pelajaran akademis, bukan diberi pengembangan nilai-nilai kehidupan sambil bermain sehingga ada keseimbangan antara perkembangan otak kanan dan otak kiri. Banyak TK yang mengikuti aliran sesat dalam pembelajaran yakni seharusnya diberi pembiasaan nilai-nilai kehidupan sambil bermain tetapi tidak dilakukan, justru diberi mata pelajaran akademis, pekerjaan rumah akademis dan lain-lain. Bukannya perkembangan otak kanan dan otak kiri terjadi keseimbangan tetapi yang terjadi adalah pembesaran pangkal otak. Akibatnya banyak perilaku anak yang pembesaran pangkal otak yang menyimpang kelak setelah dewasa, karena masa bermain dan pembiasaan nilai-nilai kehidupan diganti dengan mata pelajaran. Masa bermain hilang maka kelak dewasa masalah ingin bermain-main, bandel, sulit beradaptasi dengan lingkungannya, kurang pergaulan.


Nilai pembelajaran dalam keluarga sudah banyak ditinggalkan, seperti tradisi memberi informasi kepada bayi atau anak kecil menjelang tidur, atau bercerita/ dongeng. Menurut hasil penelitian, bahwa perubahan memori otak dari ingatan jangka pendek (sort term memory) ke ingatan jangka panjang (long term memory), ingatan seumur hidup, terjadi saat informasi yang terakhir menjelang tidur. Saat terakhir menjelang tidur itu mempengaruhi kehidupannya kelak. Jika informasi menjelang tidur itu diisi dengan cerita budi pekerti, perilaku luhur tokoh, kesederhanaan, martabat pahlawan dan lain-lain maka hidupnya akan ingat dan apresiasi akan nilai-nilai yang ada informasi itu.


Namun jika saat jelang tidur itu diisi oleh informasi yang berisi berita ghiba/infoteinment, blue video, caci makian sitetron, demontrasi, penangkapan pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatf (lengkaplah penderitaan Indonesia) maka akan mempengaruhi perilaku seumur hidupnya bahwa perilaku tercela adalah hal yang wajar dan tidak merasa bersalah atau berdosa jika berperilaku tercela dan ternoda.


UN yang tujuan utamanya untuk pemetaan pendidikan di satu daerah ternyata pelaksanaannya menyimpang dan dipersepsikan dengan pencitraan daerah sehingga banyak pemerintah daerah memaksa kepala dinas, dinas memaksa kepala sekolah, kepala sekolah memaksa guru dan guru memaksa murid untuk menghalalkan segala cara supaya curang dalam mengerjakan soal UN/UASBN. Kebohongan publik sudah terjadi di seluruh masyarakat Indonesia, orang tua marah kalau anaknya tidak lulus, walaupun potensi anaknya belum waktunya lulus. Memaksa guru dan kepala sekolah meluluskan, apapun caranya.


Walaupun potret suram di atas terjadi di masyarakat, juga banyak potret cerah yang dicapai oleh pendidikan nasional. Prestasi olimpiade internasional, prestasi akademis, profesional, budaya, seni rupa, kuliner, teknologi, demokrasi, HAM, dan lain-lain. Kehidupan dan ibadah umat Islam cenderung membaik dari sebelumnya. Lembaga pendidikan nasional, negeri dan swasta lainnya meniru model pendidikan pesantren, dalam bentuk asrama/ boarding school. Sementara pelanjut pesantren sudah banyak yang meninggalkan nilai dan tradisi pesantren agar disebut modern dan canggih. Akhirnya banyak pengusaha yang bermodal modern dan canggih membuat pesantren modern tanpa menghayati khittoh kepesantrenan.


Menurut KH Hasyim Muzadi nilai-nilai kepesantrenan adalah sebagai berikut:
Ada 3 hal yang harus dipunyai pesantren. Pertama pemikiran. Kedua perjuangan dan yang ketiga penyesuaian dengan tingkat perkembangan pada masing-masing jaman. Kalau tidak ada 3 hal ini tidak mungkin ada Nahdloh. Tidak mungkin ada kebangkitan tanpa ada pemikiran, tanpa perjuangan dan tanpa penyesuaian terhadap perkembangan jaman. Yang disebut dengan Basyiirul Biahli Zumanihi. Para pemimpin yang dapat mengukur tingkat jaman itu, dapat melihat maknanya kemudian membawakan pesantren tepat jaman dan tepat sasaran.


Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa seseorang anak kelak bisa menjadi 4 golongan, yakni 1) anak yang diharapkan dan kebanggan orang tua, 2) Anak yang hanya menjadi hiasan, 3) Anak yang menjadi fitnah bagi orang tua dan 4) Anak yang menjadi musuh orang tua. Jika hal itu kita cocokan dengan kondisi masyarakat saat ini, memang sudah terjadi. Oleh karena itu pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal harus terpadu, sesuai dan terkait (link & match) antara pembiasaan yang diterapkan di sekolah/ Madrasah dengan pembiasaan yang ada di keluarga, di rumah dan di masyarakat. Guru formal ada di sekolah/ Madrasah, guru non formal ada di tempat kursus, pelatihan, bimbingan belajar dan guru informal adalah orang tua, oma, tante, keluarga yang terdekat dari murid.
Dalam rangka gerakan nasional pendidikan karakter maka sudah saatnya Pemda, bukan hanya Dinas pendidikan, harus mulai melakukan harmonisasi kemitraan antra lingkungan sekolah/Madrasah dengan lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga. Tradisi pendidikan keunggulan lokal seperti pesantren yang melestarikan nilai-nilai kebersahajaan, keilmuan, kewirausahaan, kemandirian dan santun harus diaplikasikan dalam pendidikan karakter.
Partisipasi aparat pemerintah sebagai pimpinan formal di masyarakat harus menjadi panutan, teladan di lingkungan masyarakat, orang tua atau keluarga juga memberi contoh atau tauladan. Karena murid itu mendambakan dan memerlukan frame of reference atau orang model yang menjadi panutannya (bukan wong sing kakean model).

 

Renungkan!!!


Menurut bapak sosiologi Ibn Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama, generasi pendobrak, kedua generasi pembangunan dan ketiga generasi penikmat. Jika pada bangsa itu sudah banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati hasil pembangunan tanpa berfikir harus membangun, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu akan mengalami kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad. Yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini adalah bahwa baru setengah abad lebih, ketika generasi pedobrak masih ada satu dua yang hidup, ketika generasi pembangunan masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah muncul sangat banyak generasi penikmat, dan mereka bukan hanya kelompok yang kurang terpelajar, tetapi justeru kebanyakan dari kelompok yang terpelajar. Salah didikan mereka?